Dilemma memajukan Guru


Ketika kredibelitas guru di dihadapkan pada cermin berlabel sertifikasi, guru seolah ditentukan nasibnya oleh laporan tersebut. Asalnya sertifikasi ini dimaklumi orang untuk menetapkan seseorang layak menjadi guru atau tidak, dengan lain kata si A lulus sebagai guru atau tidak lulus sebagai guru. Tapi kenyataanya praktek sertifikasi ini seperti menegakkan benang basah.

Walaupun seseorang dalam proses sertifikasi ini harus kurus, malu, pinsang, histeris karena dinyatakan tidak lulus. Masih ada kesempatan kedua, ikut diklat. Kabarnya diklat tingkat berat –sulit diluluskan–dikirim ke Bogor. Akhirnya LULUS dan mendapat SERTIFIKAT. Klimaksnya akan mengalir sejumlah uang ke rekeningnya.

Semua guru pasti akan memiliki sertifikat guru.

Kapan semua guru akan mempunyai sertifikat guru ? menunggu kuota, menunggu giliran, antri. Asal ada pengalaman 20 tahun, 10 tahun, 5 tahun, 2 tahun, 1 tahun dan baru lulus dari perguruan tinggi (2009). Belum sarjana asal 20 tahun mengajar pasti diberi sertifikat. Gambaran buramnya seperti itu.

Kualifikasi guru profesional melalui diklat digambarkan sebagai berikut

Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan

sosial. Keempat kompetensi tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut.

1. Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam mengelola

pembelajaran, sekurang-kurangnya meliputi

  1. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan,
  2. pemahaman terhadap peserta didik
  3. pengembangan kurikulum/silabus,
  4. perancangan pembelajaran,
  5. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis,
  6. pemanfaatan teknologi pembelajaran,
  7. evaluasi proses dan hasil belajar, dan
  8. pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

2. Kompetensi kepribadian sekurang-kurangnya mencakup

  1. berakhlak mulia,
  2. arif dan bijaksana,
  3. mantap,
  4. berwibawa,
  5. stabil,
  6. dewasa,
  7. jujur,
  8. mampu menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat,
  9. secara objektif mengevaluasi kinerja sendiri, dan
  10. mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.

3. Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat, sekurang-kurangnya meliputi

  1. berkomunikasi lisan, tulisan, dan/atau isyarat,
  2. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional,
  3. bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama

    pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang

    tua/wali peserta didik,

  4. bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku, dan
  5. menerapkan prinsip-prinsip persaudaraan dan semangat kebersamaan.

4. Kompetensi profesional merupakan kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu, teknologi, dan/atau seni yang sekurang-kurang meliputi penguasaan

  1. materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai standar isi program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang diampunya, dan

  2. konsep-konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan yang secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang diampu.

Dengan kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial seperti diatas meretas masalah dan benang kusut tenaga kependidikan ini amat mudah karena guru pada dasarnya mau mengikuti aturan main yang ada, namun guru bukan yes man.

Contoh radikal kemajuan guru model bukan yes man ini mungkin digambarkan oleh 2 sisi kegiatan guru tersebut, pagi kesekolah sebagai pendidik, siang dan sorenya sebagai pemulung untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga ditengah belantara Jakarta. Tentu belum ada riset atau PTK menelusuri prosentase beliau mendidik dan alumninya yang sukses belajar dan bekerja, yang menjadi pelaku kriminal diabaikan saja.

Dari gambaran diatas ada baiknya apa yang pernah ditempuh diknas – departemen pendidikan dan kebudayaan dihidupkan lagi, Tentu dengan visi dan misi yang terbarui. Menajemen yang lebih baik dan berbasis TIK maupun WEB.

Ada baiknya cara lama yang fleksibel dan akuntabel dipadukan dengan

  1. laporan warga terdekat dan berpengalaman.
  2. laporan dewan pendidikan.
  3. Guru ybs gaptek apa nggak ? dibuktikan dapat mengetik dan mengolah nilai dengan komputer, mengakses internet , melakukan kegiatan email, melaporkan kegiatannnya di web/blog. Sebenarnya gaptek oleh diknas telah disediakan PAS – Paket Aplikasi sekolah dari diknas yang belum diterapkan secara nasional.

Cara lama itu antara lain pengawas menilai kinerja guru di atas kertas dan supervisi kelas dan lainnya. Report dari pengawas di crosschek sesama pengawas dan penilaian a,b, c di atas dengan parameter yang disepakati sebagai standar yang mungkin berlaku selama 3 tahun, 2 tahun rehat untuk update standar 3 tahun berikutnya sehingga masa 10 tahun berlakunya sebuah kurikulum( mengacu yang sekarang) dapat mengembangkan visi dan misinya. Itu kalau kita mau kerja betul !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s