Lakukan Jika Tak Punya Rasa Malu


Mengikuti drama hukum maupun dramatisasi hukum tingkat nasional di Negeri Sedang Mimpi sungguh mendirikan buru kuduk. Bukan karena ada gaya magnet statis dan bukannya karena ada triller 13 Friday. Namun gambarannya juga buram, namun samar-samar penonton belajar memegang kartu truf. Bagi anda yang pernah membaca kisah Hercule Poirot tokoh legendarisnya Agatha Christie. Drama tersebut seperti diadopsi tanpa tedeng aling-aling kalau tidak mau disebut plagiat.Drama hukum bersetting 2009 tersebut seperti mengikuti jejak Poirot dan Miss Marple.Pola ini berada seperti disebelah dinding kaca, sayang kacanya buram Tentu sungai Musi ataupun kali grogol ( Palembang dan Batavia sebagai latar tempat tinggal para petinggi yang di adili) tidak seseram Nil.

Drama ini mendirikan bulu kuduk karena kita (sebagai penonton) di bawa sebagai peran pembantu ( people power ) menaiki tangga yang terbuat dari pohon randu. Kalau ambruk bukan lagi gempa dengan 7 SR. Tak terbayanglagi kejadiannya. Saling injak dan berburu keluar dari gedung yang ambruk itu yang dapat digambarkan. ( dulu masyarakat jawa kalau menghukum anak bilangnya ”kapok ora ” = jera apa tidak jera ? : dramanyapun seperti permainan sepakbola jago kapuk).

Drama hukum nasional di Negeri Sedang Mimpi tadi kalau dilihat dari petuah orang tua kepada anaknya di salah satu sudut pulau Madura terkait nilai, kehormatan dan sopan santun adalah menanamkan rasa malu. Ini mungkin yang dapat mendirikan bulu kuduk, dan merinding. Segenap tindakan maupun tingkah laku seseorang sebanarnya dikumpulkan dari hari ke hari, bulan hingga tahun dan pada saatnya akan masuk sebagai orang yang terhormat atau tidak, jika terhormat maka martabat akan terus meningkat sesuai keinginan dan maupun idaman lingkungannya, dituakan, dijadikan pemimpin dan panutan. Tingkahnya menjadi teladan dan ditiru, ucapannya dibakukan sebagai hukum yang ditaati.

Nah, kejadiannya akan amat buruk, jika anak atau orang tidak taat dan menyimpang dari tatanan yang baku sebagai nilai, adat dan tradisi di Madura tadi. Karena tidak punya rasa malu lagi, tidak memikirkan masa depan lagi, tidak memili kehormatan lagi. Maka jurus pamungkasnya totalitas ke arah itu dan akan menjadi tanggung jawab sendiri. ” Mon tak endik todus padana mettak burik tenga lorong” ” Jika tak punya rasa malu lagi, lakukan sesukamu dengan tunjukkan kemaluanmu ( anusmu )  di tengah jalan ”.

Siapa yang tidak bergidik ?

bokong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s